Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani dilahirkan di Jilan, sebuah distrik tersendiri yang terletak diujung negeri kuno Thobaristan(sebelah baratnya) yaitu, pada tahun 471 H atau 1078 M.
Saat Masih bayi, ia menghindari untuk menyusu pada waktu siang di bulan Ramadhan. karena mendapat inayah (penjagaan) dari Allah SWT.
Dan ketika ia tumuh besar di usia remaja, ia mulai berkelan untuk menuntut ilmu. yakni, belajar pada guru-guru yang unggul derajatnya dan agung ilmunya. Dengan penuh keseriusan untuk menjalankan keutamaan-keutamaan amal. dengan kesemangatan dan ketangkasan yang melebihi kecepatan larinya urung kasuari. Ia belajar ilmu fiqh pada Syaikh Abi al Wafa 'Ali ibn 'Aqil (431-513 H/1023-1115 M). dan Abi al-Khottob al-Kalwadzani Mahfuz ibn Ahmad al-jalil ( 432 - 510 H/ 1034 -1112 M ). Salah satu ulama bermahdzab Hanbali dan tokohnya. Dikenal sebagai pakar hadist dan fiqh. Serta Husain Muhammad ibn Qadli Abi Ya'la dan para guru yang lain dari ulama - ulama yang ditempatkan pada kursi yang tinggi dalam keilmuannya.
Dan ia belajar ilmu adab pada Abi Zakariya Yahya ibn 'Ali at - Tibrizi ( 431-502 H). Ia banyak mendapatkan ilmu darinya. Sedangkan dalam ilmu thoriqoh, ia berguru pada al-'Arif bil -Lah Syaikh Abi al-Khoir Hammad ibn Muslim ad-Dabbas ( w.525 H/ 1127 M). Sedangkan yang mengenakan khirqah sufiyyah adalah Qadli Abi Sa'id in al-Mubarak.

Dan ia pun menjalani kebiasaan-kebiasaan baik gurunya ini. Syaikh Abdul Qodir ra. senantiasa dalam pantauan penjagaan inayah robbani (dari Allah SWT). Dan terus naik pada tangga-tangga kesempurnaan dengan himmahnya; himmah yang mencegah sifat-sifat tercela. Mengolah diri dengan penuh keseriusan, selalu siap sedia untuk bersungguh-sungguh, menjauhi keinginan-keinginan untuk memenuhi kebutuhan dan hajat serta keinginan untuk meminta bantuan orang lain. Sampai ia hidaup dalam waktu 25 tahun berkelana di gurun dan tempat-tempat sunyi di irak. Ia tidak mengenal manusia dan manusia tidak mengenalnya. Mereka memandangnya rendah dan mengabaikannya. Dipermulaan perjalanan suluk, ia mengalami penderitaan oleh cacian, godaan dan segala macam kekhawatiran. Dan tidak ada setiapujian kecuali beliau lulus menundukannya. Dan selama ia berkelana ini, ia selalu menempat di tempat sunyi dan kosong.
Yang ia pakai adalah jubah bulu yang biasa dikenakan oleh para sufi, sedang seutas kain menutup bagian kepalanya, berjalan tanpa terompah menyusuri jalanan berduri dan jalanan terjal sebab ia tidak menemukan terompah yang ia gunakan.
Yang menjadi makanannya adalah buah pepohonan, sayur - sayuran yang sudah dibuang, serta rerumputan yang tumbuh disekitar sungai. tidak tidur dan tidak minum air kecuali sedikit. Pernah suatu kali, ia tidak menemukan makanan sama sekali, lalu ia bertemu seseorang. Orang itu memberinya sekantong uang dirham karena menaruh hormat dan memuliakannya. Lalu ia mengambil sebagian untuk membeli roti samid ( dari tepung putih) dan jenis khobis (campuran kurma dan samin). Lalu ia duduk menikmati, tia-tiba ia menemukan secarik kertas. Tertulis dikertas itu; sungguh aku jadikan syahwat untuk hamba-hambaku yang lemah, untuk dengannya ia buat sebagai lantaran menjalankan tho'at. Sedangkan orang yang kuat, tidak ada padanya syahwat. Spontan ia letakkan kembali makanannya, lalu ia mengambil sapu tangan, meninggalkan makanan lalu menghadap ke kiblat untuk menjalankan sholat dua kali, lalu beranjak pergi. dan ia diberi kefahaman, bahwa ia masih dijaga oleh Allah SWT, dan mendapat pertolongan dari-Nya.
الللهمّّ انشر نفحات الرِّضوان عليه * وامدّّنا بالاسرار الّّتي اودعتها لديه
pustaka: AL-LUJAIN AD-DANI
.........(
bersambung)